Selasa, 24 April 2012

KETENTUAN WASIT BOLA VOLI


Federasi Bolavoli Internasional terbentuk tahun 1946, telah memasukkan cabang olahraga ini menjadi salah satu cabang olahraga yang dipertandingkan pada Olympiade Tokyo 1964. Perkembangan permainan bolavoli, baik secara fisik, teknik, maupun taktik haruslah diikuti dengan perkembangan mutu perwasitannya.

 Pedoman Umum Perwasitan Bolavoli
1)  Memimpin suatu pertandingan agar dapat berjalan lancar tanpa mengalami gangguan apapun.
2)  Dapat menafsirkan peraturan dengan tepat dan selalu konsisten dalam mengambil keputusan.
3)  Harus adil dan objektif sesuai peraturan yang sudah disahkan PBVSI.
4)  Putusan tidak berdasarkan ramalam atau prasangka, tetapi merupakan kejadian yang nyata atau fakta benar-benar nyata terlihat wasit.
5)  Tempat sedekat mungkin dan lebih tinggi dari net. Posisi dapat mengamati medan dan seluruh pemain dengan baik dan jelas.

Syarat Menjadi Wasit Bolavoli
·         Berbadan sehat dan mempunyai fisik normal.
·         Mempunyai bakat menjadi seorang wasit.
·         Senang terhadap permainan bolavoli.
·         Serendah-rendahnya lulusan SLTP.
·         Berumur 20 - 40 tahun.
·         Berdedikasi tinggi
·         Anggota satu perkumpulan bolavoli.
·         Berstatus amatir.

Jenjang Wasit Bolavoli
  • Wasit perkumpulan
  • Wasit cabang wilayah
  • Wasit daerah/Pemda tingkat A dan B
  • Wasit nasional tingkat A, B, dan C
  • Wasit kandidat international

Perlengkapan Wasit
Pakaian Seragam :
  • Celana putih/hitam
  • Kaos putih polos atau hitam garis-garis putih pakai krah
  • Sepatu karet putih
  • Badge wasit sesuai klasifikasi:
Ø      kuning untuk cabang - dikeluarkan cabang
Ø      putih untuk Pemda - dikeluarkan Pemda
Ø      hijau untuk nasional - dikeluarkan PBVSI Pusat, dan
Ø      biru - untuk internasional - dikeluarkan IVBF

Komposisi Wasit
  1. Seorang wasit pertama (referee)
  2. Seorang wasit kedua (umpire)
  3. Seorang pencatat (scorer)
  4. 4 atau 2 orang hakim garis (linesmen)

Tugas, Kewajiban dan Wewenang Wasit  Tugas Wasit
1)      Memimpin pertandingan agar berjalan lancar.
2)      Meningkatkan: keterampilan, kemampuan dan pengetahuan tentang perwasitan bolavoli.
3)      Menyebarluaskan peraturan pertandingan di masyarakat.
4)      Meningkatkan mutu perwasitan di masyarakat khususnya di Indonesia pada umumnya.

Kewajiban dan Wewenang Wasit
1)      Wajib memimpin pertandingan bolavoli baik di tingkat cabang, daerah, nasional maupun tingkat internasional.
2)      Tidak berhak memimpin pertandingan di atas sertifikat yang dimilikinya.


Prosedur Mewasiti
  • Wasit 1 dan 2 yang diperbolehkan meniup peluit selama pertandingan.
  • Wasit 1 memberi tanda memulai permainan (service).
  • Wasit 1 dan 2 : tanda bola mati setelah yakin ada pelanggarannya, tanda bola mati bertujuan untuk menunjukkan menyetujui atau menolak permohonan regu.
  • Wasit 1 : memberi peringatan, menjatuhkan hukuman.
  • Begitu wasit meniup peluit sudah harus dapat menunjukkan:
Ø      Sifat kesalahan dan isyarat tangan yang resmi.
Ø      Pemain yang bersalah
Ø      Giliran service, sekaligus menunjuk regu yang mendapat poin.
o  Isyarat dilakukan hanya seketika. Isyarat dilakukan dengan tangan untuk menunjuk satu kesalahan. Yang melakukan kesalahan ditunjuk. Menunjukkan giliran service, sekaligus memberi tanda poin dari kesalahan yang dibuat satu regu.
o  Kekuasaan Wasit 1
§  Memimpin pertandingan dari awal sampai akhir pertandingan.
§  Mempunyai kekuasaan penuh, termasuk upaya yang tidak tercantum dalam peraturan.
§  Kekuasaannya mutlak - dapat mengganti salah seorang petugasnya bila dianggap tidak melaksanakan tugasnya dengan baik.
§  Menentukan lapangan baik/buruk sebelum pertandingan.
o  Wasit 1 dan 2 harus mengawasi bola, apakah bola tersebut telah memenuhi persyaratan sewaktu permainan berlangsung.

Tanggung Jawab Wasit 1

A.    Sebelum pertandingan :
·         Memeriksa sarana/prasarana pertandingan.
·         Melakukan tos.
·         Mengawali pemanasan.


B.     Selama pertandingan :
·         Mempunyai wewenang menentukan kesalahan: kesalahan pukulan servis, posisi regu, block, sentuhan pada net, menyentuh bola, di atas net beserta pita horizontalnya, simultan/bersamaan.
·         Jangan membiarkan suatu perdebatan atas pengajuan kapten.
·         Jika kapten tidak sepaham dalam penafsiran, dicatat di lembar score sheet, wasit 1 harus memberi pencatatan protes di akhir pertandingan.

C.     Sesudah pertandingan.
·         Menandatangani score sheet.
·         Langsung menuju ke ruang wasit.

Tugas Wasit 2
o  Mengawasi posisi pemain selamaset itu berlangsung, pemindahan tempat waktu set penentuan.
o  Mengawasi tindak tanduk anggota masing-masing regu yang duduk di bangku cadangan, kalau ada sesuatu harus dilaporkan ke wasit 1.
o Mencegah pemain cadangan melakukan pemanasan di area pertandingan.
o Mengawasi jumlah time out dan pergantian pemain.
o Menolak penghentian yang tidak layak; mengabulkan permohonan yang sah serta mengawasi waktunya.
o Menunjukkan kesalahan lain tanpa meniup peluit, tetapi tidak boleh menekan wasit 1.
o Menentukan diperlukan atau tidak pengeringan permukaan lapangan.

HORMON DAN SARAF


A.    Hormon
Berasal dari bahasa Yunani, horman : "yang menggerakkan" adalah pembawa pesan kimiawi antarsel atau antarkelompok sel. Semua organisme multiselular, termasuk tumbuhan, memproduksi hormon.
Hormon beredar di dalam sirkulasi darah dan fluida sel untuk mencari sel target. Ketika hormon menemukan sel target, hormon akan mengikat protein reseptor tertentu pada permukaan sel tersebut dan mengirimkan sinyal. Reseptor protein akan menerima sinyal tersebut dan bereaksi baik dengan memengaruhi ekspresi genetik sel atau mengubah aktivitas protein selular, termasuk di antaranya adalah perangsangan atau penghambatan pertumbuhan serta apoptosis (kematian sel terprogram), pengaktifan atau penonaktifan sistem kekebalan, pengaturan metabolisme dan persiapan aktivitas baru (misalnya terbang, kawin, dan perawatan anak), atau fase kehidupan (misalnya pubertas dan menopause). Pada banyak kasus, satu hormon dapat mengatur produksi dan pelepasan hormon lainnya. Hormon juga mengatur siklus reproduksi pada hampir semua organisme multiselular.
Pada hewan, hormon yang paling dikenal adalah hormon yang diproduksi oleh kelenjar endokrin vertebrata. Walaupun demikian, hormon dihasilkan oleh hampir semua sistem organ dan jenis jaringan pada tubuh hewan. Molekul hormon dilepaskan langsung ke aliran darah, walaupun ada juga jenis hormon - yang disebut ektohormon (ectohormone) yang tidak langsung dialirkan ke aliran darah, melainkan melalui sirkulasi atau difusi ke sel target.
Pada prinsipnya pengaturan produksi hormon dilakukan oleh hipotalamus (bagian dari otak). Hipotalamus mengontrol sekresi banyak kelenjar yang lain, terutama melalui kelenjar pituitari, yang juga mengontrol kelenjar-kelenjar lain. Hipotalamus akan memerintahkan kelenjar pituitari untu mensekresikan hormonnya dengan mengirim faktor regulasi ke lobus anteriornya dan mengirim impuls saraf ke posteriornya dan mengirim impuls saraf ke lobus posteriornya.
Pada tumbuhan, hormon dihasilkan terutama pada bagian tumbuhan yang sel-selnya masih aktif membelah diri (pucuk batang/cabang atau ujung akar) atau dalam tahap perkembangan pesat (buah yang sedang dalam proses pemasakan). Transfer hormon dari satu bagian ke bagian lain dilakukan melalui sistem pembuluh (xilem dan floem) atau transfer antarsel. Tumbuhan tidak memiliki kelenjar tertentu yang menghasilkan hormon.
B.     Saraf
Sistem saraf tersusun oleh berjuta-juta sel saraf yang mempunyai bentuk bervariasi. Sistern ini meliputi sistem saraf pusat dan sistem saraf tepi. Dalam kegiatannya, saraf mempunyai hubungan kerja seperti mata rantai (berurutan) antara reseptor dan efektor. Reseptor adalah satu atau sekelompok sel saraf dan sel lainnya yang berfungsi mengenali rangsangan tertentu yang berasal dari luar atau dari dalam tubuh. Efektor adalah sel atau organ yang menghasilkan tanggapan terhadap rangsangan. Contohnya otot dan kelenjar. Sistem saraf terdiri dari jutaan sel saraf (neuron). Fungsi sel saraf adalah mengirimkan pesan (impuls) yang berupa rangsang atau tanggapan. Setiap neuron terdiri dari satu badan sel yang di dalamnya terdapat sitoplasma dan inti sel. Dari badan sel keluar dua macam serabut saraf, yaitu dendrit dan akson (neurit). Setiap neuron hanya mempunyai satu akson dan minimal satu dendrit. Kedua serabut saraf ini berisi plasma sel. Pada bagian luar akson terdapat lapisan lemak disebut mielin yang merupakan kumpulan sel Schwann yang menempel pada akson. Sel Schwann adalah sel glia yang membentuk selubung lemak di seluruh serabut saraf mielin. Membran plasma sel Schwann disebut neurilemma. Fungsi mielin adalah melindungi akson dan memberi nutrisi. Bagian dari akson yang tidak terbungkus mielin disebut nodus Ranvier, yang berfungsi mempercepat penghantaran impuls.
Sistem saraf tersusun dari berjuta-juta sel saraf. Berdasarkan struktur dan fungsinya, sel saraf dapat dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu sel saraf sensori, sel saraf motor, dan sel saraf intermediet (asosiasi).
• Sel saraf sensori
Fungsi sel saraf sensori adalah menghantar impuls dari reseptor ke sistem saraf pusat, yaitu otak (ensefalon) dan sumsum belakang (medula spinalis). Ujung akson dari saraf sensori berhubungan dengan saraf asosiasi (intermediet).

• Sel saraf motor
Fungsi sel saraf motor adalah mengirim impuls dari sistem saraf pusat ke otot atau kelenjar yang hasilnya berupa tanggapan tubuh terhadap rangsangan. Badan sel saraf motor berada di sistem saraf pusat. Dendritnya sangat pendek berhubungan dengan akson saraf asosiasi, sedangkan aksonnya dapat sangat panjang.
• Sel saraf intermediet
Sel saraf intermediet disebut juga sel saraf asosiasi. Sel ini dapat ditemukan di dalam sistem saraf pusat dan berfungsi menghubungkan sel saraf motor dengan sel saraf sensori atau berhubungan dengan sel saraf lainnya yang ada di dalam sistem saraf pusat. Sel saraf intermediet menerima impuls dari reseptor sensori atau sel saraf asosiasi lainnya.
Kelompok-kelompok serabut saraf, akson dan dendrit bergabung dalam satu selubung dan membentuk urat saraf. Sedangkan badan sel saraf berkumpul membentuk ganglion atau simpul saraf.

KIAT-KIAT MENJADI WASIT BOLA VOLI


 KIAT-KIAT MENJADI WASIT BOLA VOLI
Sepertinya seluruh masyarakat di seluruh dunia telah mengenal sebuah olahraga permainan dengan  kulit bundar bernama bola voli. Bola voli yang mulai dimainkan secara terformat yang dipertandingkan pada Olympiade Tokyo 1964, kini telah sebegitu populernya sehingga baik laki-laki atau perempuan menjadi penikmat olahraga ini.
            Dalam bola voli pertandingan dipimpin oleh seorang wasit yang dibantu oleh wasit 2 dan hakim garis. Dalam menjadi wasit seseorang harus mengetahui sikap wasit dalam memimpin pertandingan, sikap-sikapnya adalah:
·         Wasit harus disiplin
·         Wasit harus jujur
·         Wasit harus tegas dalam memutuskan
·         Wasit tidak boleh ragu-ragu
·         Wasit harus konsisten
·         Wasit harus memiliki kesabaran
·         Wasit harus bersikap netral
·         Wasit harus adil

Perwasitan bola voli tidaklah sulit, karena semua hal yang ada pada pedoman perwasitan semua sudah tersedia, kita tinggal belajar untuk memahaminya. Pedoman itu sendiri antara lain:
1.      Memimpin jalannya pertandingan agar dapat berjalan lancar tanpa mengalami gangguan apapun.
2.      Dapat menafsirkan peraturan dengan tepat dan selalu konsisten dalam mengambil keputusan.
3.      Harus adil dan obyektif sesuai dengan peraturan yang sudah disahkan.
4.      Keputusan wasit tidak berdasarkan ramalan atau prasangka, tetapi merupakan kejadian yang nyata atau fakta yang benar-benar dilihat oleh wasit.
5.      Posisi wasit harus diperhatikan yaitu pandangan mata berada di atas bibir net, hal ini mempunyai fungsi supaya pandangan wasit jelas tidak terhalang apapun.
Pedoman di atas harusnya dimiliki oleh setiap wasit yang akan memimpin sebuah jalannya pertandingan, supaya pertandingan berjalan lancer dan tidak ada protes yang dilayangkan.

Selain harus menjalankan semua pedoman yang ada, wasit bola voli harus memenuhi syarat agar sah menjadi wasit. Syarat-syarat menjadi wasit bola voli yaitu antara lain:
·         Berbadan sehat dan mempunyai fisik normal.
·         Mempunyai bakat menjadi seorang wasit.
·         Senang terhadap permainan bolavoli.
·         Serendah-rendahnya lulusan SLTP.
·         Berumur 20 - 40 tahun.
·         Berdedikasi tinggi
·         Anggota satu perkumpulan bolavoli.
·         Berstatus amatir

Syarat-syarat dibutuhkan wasit agar pencalonan menjadi wasit diijinkan oleh PBVSI. Syarat-syarat di atas adalah standar nasional untuk menjadi wasit bola voli. Jika seseorang yang ingin menjadi wasit bola voli tetapi tidak memenuhi persyaratan di atas maka seseorang tersebut tidak bisa menjadi wasit bola voli. Selain syarat-syarat di atas wasit juga harus mempunyai kompetensi lain untuk membantu proses jalannya perwasitan agar lancer. Kompetensi lain itu berupa:
1.      Tugas wasit
·         Memeriksa kelengkapan lapangan sesuai dengan peraturan pertandingan.
·         Melakukan undian
·         Memimpin dan menegakkan peraturan pertandingan agar berjalan lancer (sesuai dengan lisensi)
·         Wasit harus mencatat kejadian-kejadian dan menandatangani hasil pertandingan.
·         Wasit harus membantu menyelesaikan masalah (protes)
·         Memulai dan menghentikan pertandingan
·         Melaksanakan keputusan pemenang
2.      Wewenang wasit
·         Memberikan hukuman kepada atlet
·         Keputusan wasit bersifat mutlak
·         Menanyakan keraguan wasit kepada juri/wasit  2
3.      Kewajiban wasit
·         Menjelaskan secara singkat jalannya pertandingan
·         Meningkatkan: keterampilan, kemampuan, dan pengetahuan tentang perwasitan
·         Menyebarluaskan peraturan pertandingan di masyarakat (sosialisasi)
·         Meningkatkan mutu perwasitan di masyarakat khususnya di Indonesia pada umumnya
Dari komponen-komponen di atas kita bisa tahu bagaimana kompetensi-kompetensi yang diperlukan untuk menjadi seorang wasit.

Selain kompetensi-kompetensi di atas, seorang wasit juga membutuhkan ilmu pendukung supaya dalam melakukan perwasitan menjadi sempurna. Ilmu pendukung tersebut adalah factor dari sebuah kunci sukses dalam perwasitan, kunci suksesnya antara lain: disiplin, terbuka, positif, kreatif, berani, konsisten, arif bijaksana, konsekuen, energik, inovatif, apresiatif, komunikatif. Jika semua hal tersebut dilaksanakan maka wasit akan menjadi teladan, panutan, kepercayaan dan kecintaan bagi para atlet.