Loading...

Selasa, 22 Maret 2011

makalah perkembangan olahraga di indonesia


BAB I
PENDAHULUAN

1.    Latar Belakang
Dalam bidang olahraga sangat dibutuhkan suatu daya tahan tubuh yang kuat, sehingga kita bisa melakukan sebuah aktivitas olahraga dengan semangat karena didukung oleh daya tahan tubuh yang kuat. Dengan itu maka kita menjalani kegiatan tersebut dengan perasaan senang menjalani aktivitas tersebut.
Kita sering berolahraga, tetapi apakah kita tahu perkembangan olahraga di Negara kita ini yaitu Indonesia. Mungkin kebanyakan orang di sekitar kita tidak tahu perkembangan olahraga di Indonesia saat ini, karena mereka hanya menjalankan olahraga dan tidak ingin tahu bagaimana sejarah dari olahraga itu sendiri.
Sehubungan dengan itulah maka perlu adanya suatu pengetahuan mengenai sejarah olahraga supaya kita semua bisa tahu bagaimana perkembangan olahraga tidak hanya bisa berolahraga saja.
Judul makalah ini sengaja dipilih karena menarik perhatian penulis untuk dicermati dan perlu mendapat dukungan dari semua pihak yang peduli terhadap dunia olahraga.

2.      Perumusan Masalah
a.     Bagaimana perkembangan olahraga sejak jaman pra sejarah sampai penyelenggaraan GANEFO.
b.      Sejauhmana Indonesia berusaha dalam meningkatkan olahraga di tanah air.

3.      Tujuan
a.      Mengetahui perkembangan olahraga di tanah air.
b.      Memahami perkembangan olahraga supaya semakin meningkat di masa depan.




BAB II
PEMBAHASAN

Sejarah Perkembangan Olahraga
Pada zaman mataram 1600 sampai dengan 1775 di setiap kabupaten terdapat sebuah lapangan yang dinamakan aloon-aloon tempat para prajurit mengolah raganya baik berupa pencak silat,panahan atau berkuda latihan gladi keprajuritan dinamakan “seton”.Dalam sejarahnya olah raga di Indonesia melaju sejalan dengan perkembangan masyarakat. Contoh olah raga tradisional di Indonesia : pasola, debus, ujungan, dan loncat batu nias
            Perhatian masyarakat Indonesia sedikit sekali terhadap olahraga sehingga perkembangannya tidak mencapai tingkatan yang tinggi kegiatan olahraga di masyarakat pada waktu itu biasanya merupakan demonstrasi yang dilakukan oleh pelajar-pelajar sekolah menengah seperti HIK ( Hollandssh Indische Kweekscholl atau sekolah guru ), MULO ( Meer Uitgebreid Lager Onderwijs atau SMP ), AMS ( Algemeenee Middelbare School atau SMA ) dan HBS ( Hoogere Burgerschool atau Sekolah Menengah Lima Tahun ). Sedangkan atletik banyak menarik perhatian pelajar-pelajar sekolah lanjutan karena sering dipertandingkan dalam acara sekolah yang dipertandingkan, seperti: jalan, lari, lempar dan lompat. Sedangkan permainan yang diajarkan di tingkat SD adalah kasti dan bola bakar juga ada rounders dan kiepers. Permainan yang berkembang di masyarakat pada saat itu adalah sepak bola dan bulu tangkis. Permainan yang berkembang pada masyarakat kelas tinggi adalah tenis untuk kalangan bangsawan dan pelajar sedangkan tenis meja berkembang pada masyarakat china untuk permainan asli nenek moyang Indonesia mulai berkurang kecuali pencak silat yang berkembang di pesantren-pesantren dan padepokan pencak silat.
Pada zaman sesudah Indonesia memproklamirkan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus tahun 1945, dibentuklah susunan kabinet pertama dimana kegiatan olahraga dan pendidikan jasmani berada dibawah menteri pengajaran. Pada waktu itu pendidikan jasmani dipergunakan dilingkungan sekolah, sedangkan olahraga digunakan untuk kegiatan olahraga di masyarakat yang berupa cabang-cabang olahraga. Dengan dibentuknya kementarian pengajaran, maka pemimpin-pemimpin bangsa pada waktu itu telah menunjukkan kepeduliannya akan masalah pendidikan, yang didalamnya tercakup pula pendidikan jasmani, namun karena baru dalam taraf penataan, maka kegiatan pendidikan jasmani yang diatur oleh kementarian pengajaran belum banyak begitu dirasakan. Istilah “gerak badan” masih banyak dipergunakan disekolah dasar maupun di sekolah menengah. Ada permulaan tahun 1946 para pemimpin olahraga yang sebagian besar terdiri dari pemimpin seperti ex GELORA (Gerakan Latihan Olahraga Rakyat, yang didirikan pada zaman Jepang yang merupakan organisasi olahraga yang didalamnya terdapat cabang-cabang seperti sepak bola, bulu tangkis, tenis, dll), ex PUTERA dan juga ex pengurus ikatan sport Indonesia disingkat I.S.I (didirikan tahun 1938) megadakan pertemuan di Surakarta tepatnya di gedung Habipraya didpimpin oleh Dr. Abdurrachman Saleh yang mana pada pertemuan tersebut terdapat keputusan-keputusan penting sebagai berikut:
1.   Pertemuan itu dinamakan Kongres Olahraga I (pertama) tahun 1946
2.   Nama Persatuan Olahraga Indonesia (PORI) untuk hubungan luar negeri dibentuklah Komite Olimpiade Republik Indonesia (KORI) kegiatan PORI lebih diarahkan untuk mengiatkan cabang-cabang olahraga yang telah menjadi anggotanya.
            Seperti dijelaskan diatas peran olahraga semakin penting pada zaman pergerakan nasional pada 1908, yang mencapai puncaknya saat para pemuda Indonesia mendeklarasikan Sumpah Pemuda 1928. Mereka menjadikan olahraga sebagai tekad perjuangan bangsa untuk merdeka. Ini terlihat pada penggalan lagu Indonesia Raya yang dikumandangkan pertama kali saat deklarasi itu: “... bangunlah jiwanya, bangunlah badannya, untuk Indonesia Raya ...”
Setelah Indonesia merdeka, olahraga turut berperan mewujudkan cita-cita bangsa, seperti tercantum dalam Undang-Undang Dasar 1945. Pada awalkemerdekaan,saat masa revolusi, bangsa Indonesia menggelar Pekan Olahraga Nasional untuk pertama kalinya di Surakarta, 9 September 1948. Ini membuktikan kepada dunia luar bahwa Indonesia bisa mengadakan kegiatan seperti apa yang dilakukan olah negara-negara merdeka di dunia ini.

Berikut ini Penjelasan mengenai  Penyelenggaraan PON I
Pengurus besar PORI mengusulkan kepada Pemerintah Pusat yang waktu itu berada di Yogyakarta bahwa PORI akan menyelenggarakan Pekan Olahraga di Surakarta yang selanjutnya PB. PORI memebentuk panitia PON. Yang mempelopori terbentuknya PON yaitu Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Dr. Abdul Rahman Saleh, Mr. Widodo Satrodiningrat.
Prinsip dasar PON:
-       Uaha untuk memupuk persaudaraan sesama bangsa Indonesia
-       Untuk meningkatkan daya tahan prestasi secara nasional
-       Merupakan titik kulminasi dari seluruh kegiatan keolahragaan di tanah air.
Peraturan Penyelenggaraan PON:
-       Tidak boleh bertepatan tahun dengan Asian Games dan Olimpic Games, tidak boleh ada KEJURNAS kecuali cabor yang tidak ada di PON.
-       Tidak boleh lebih dari 12 hari berturut-turut termasuk pembukaan dan penutupan.
-       Atlet adalah WNI, tercatat minimal 6 bulan sebagai penduduk di daerah atau provinsi bersangkutan.
-       Atlet amatir sesuai ketentuan induk cabor bersangkutan.
-       Tidak ada batasan umur, kecuali ditetapkan cabor berlaku secara Internasional yang menentukan demikian dan peraturan hanya berlaku untuk cabor tersebut saja.

Informasi singkat tentang pelaksanaan PON I (Surakarta)
Ketua Umum PON I GPH Soerjo Hamid Djojo
1.       Diadakan tanggal 9 – 12 September 1948 di Surakarta
2.       Acara pembukaan PON pertama di stadion Sriwedari.
3.       Peserta PON adalah kontingan presidenan yang terdiri dari 13 kontingen yaitu :
a.      Yogyakarta
b.      Solo
c.      Surabaya
d.      Malang
e.      Kediri
f.      Madiun
g.      Semarang
h.      Pati
i.       Kedu
j.       Magelang
k.      Banyumas
l.       Bandung
m.     Jakarta

4.       Cabang olahraga yang dipertandingan 9 cabang olahraga sbb:
a.      Atletik
b.      Bola keranjang (korfbal)
c.       Bulutangkis
d.       Tenis
e.       Renang
f.       Panahan
g.       Sepak bola
h.       Bola basket
i.         Pencak Silat
5.     Bendera PON berwarna putih dengan gambar lima lingkaran (ring) olimpiade dan obor ditengahnya diserahkan kepada regu pembewa obor di Yoyakarta oleh Presiden dan dibawa dengan berjalan kaki secara beranting dari Yogya ke Solo
6.    PON akan dibuka tanggal 9 September 1948 oleh Presiden RI
7.    PON diselenggrakan dengan tujuan untuk menggalang Persatuan dan Kesatuan para pemuda dan pemudi dalam wilayah Negara RI
8.    Penyelenggaraan PON juga dimaksudkan untuk melatih para atlet untuk tujuan yang lebih tinggi lagi yaitu untuk dapat mempersiapkan diri kepertandingan Internasional seperti Asian Games dan Olmpic Games

Keikutsertaan Indonesia di ajang Olahraga Internasional
Setelah berhasil menyelenggarakan PON I, PORI berubah menjadi  Persatuan Olahraga Indonesia yang singkatannya tetap PORI, sedangkan KORI menjadi KOI (Komite Olahraga Indonesia), bertepatan dengan penyelenggaraan PON II yang dilaksanakan di Jakarta. PORI dan KOI menyelenggarakan kongresnya di Jakarta. Kongres tersebut memutuskan untuk melebur KORI menjadi KOI atas usul PSSI dan PASI, dengan pertimbangan untuk efisiensi kerja. Setelah itu KOI merupakan satu-satunya organisasi yang membina keolahragaan nasional dan juga bertugas mengurusi hubungan dengan organisasi keolahragaan di luar negeri seperti Asian Games dan Olimpic Games. KOI bergabung dengan IOC pada tahun 1952 dengan Sri Sultan Hamengkubowono IX  disahkan menjadi anggota IOC dari Indonesia, yang kemudian dilanjutkan dengan keikutsertaan Indonesia di Olimpiade yang diselenggarakan di Helsinki pada tahun 1952. Itu merupakan pertama kalinya Indonesia ikut serta diajang Olimpiade yang ternyata tidak saja “mendemamkan” olahraga khususnya olimpiade di tanah air, tetapi juga masyarakat Indonesia yang berada di luar negeri. Betapa tidak karena nama Indonesia berada di antara 72 negara peserta Olimpiade dan tidak kurang 5200 olahragawan terpilih di seluruh dunia ikut berpartisipasi, meskipun Indonesia baru pertama kali mengikuti Olimpiade dan hanya mengirimkan 3 atlet saja namun pengalaman tersebut sangat berharga. Terutama bagi atlet dan merupakan suatu kebanggaan bagi bangsa Indonesia.

GANEFO I Jakarta
Persiapan penyelenggaraan Ganefo I Jakarta 10 – 22 November 1963 menetapkan ada 5 usaha pokok yaitu :
1.    Memobilisasi Negara-negara peserta (48 negara hadir dan diikuti oleh 3000 atlet)
2.    Pengerahan potensi nasional (Pengerahan partai politik, pemuda, mahasiswa baik dipusat maupun didaerah untuk menyukseskan ganefo)
3.    Pengoorganisasian perayaan Ganefo
4.    Penyiapan tim nasional Indonesia
5.    Persiapan pembiayaan

Penyelenggaraan Ganefo
Akhirnya Ganefo I berhasil diselenggrakan di Jakarta pada tanggal 10 - 22 November  1963 dengan mempertandingkan 20 cabang olahraga dan Indonesia berhasil menempati rangking III sesudah RRC I dan USSR ke II
Setelah prestasi yang didapat di Ganefo presiden RI turun langsung memberikan perintah kepada aparaturnya yaitu menteri olahraga agar prestasi olahraga dapat mencapai taraf internasional.
Rencana 10 tahun olahraga dan Departemen Olahraga meliputi 5 program dasar:
Program Dasar I : mempertinggi potensi fisik nasional (gerakan masal olahraga)
Program Dasar II : memperluas dan mengintensifkan gerakan olahraga dilingkungan pemuda /pelajar
Program Dasar III : membina olahragawan yang potensial dan berbakat tinggi
Program Dasar IV : menyediakan kelangkapan material dan spiritual untuk penyelenggaraan program-program olahraga
Program Dasar V : konsultasi hasil Ganefo I dan pengeloraan Gerakan Ganefo.















BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Dari uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa Indonesia sejak jaman pra sejarah sudah mengenal olahraga melalui penjajah yang menjajah negeri ini, walaupun sedikit peningkatan tetapi dengan adanya pengenalan olahraga di lingkungan sekolah olahraga menjadi popular dan sangat digemari oleh orang-orang pada masa itu.
Dengan adanya olahraga di tanah air pemerintah membentuk sebuah kompetisi yang memperebutkan gelar dan gengsi dalam bidang olahraga yaitu dengan diselenggarakannya PON dan GANEFO. Selain itu olahraga juga berfungsi sebagai alat pemersatu bangsa, karena dengan olahraga semua atlet bisa saling mengenal dan bekerjasama untuk menjadi pemenang.

B.     Saran
Dengan kita mengetahui sejarah olahraga di tanah air maka kita hendaknya berusaha untuk memajukan bidang olahraga di tanah air yang semakin kacau ini dengan adanya korupsi yang merajalela. Kita harus berani menentang pemerintah yang melakukan penyimpangan tersebut. Sehingga olahraga di Indonesia semakin maju dan lebih berkembang disbanding masa lalu. 

6 komentar: